Entertainment

“Profesionalitas” yang Tidak Profesional

Arip Senjaya | Dosen sastra dan filsafat Untirta

 

Bahasa Indonesia, kalau dihitung dari sejak Sumpah Pemuda, 97 tahun sudah umurnya. Tapi ternyata masih saja kita ini aneh-aneh dalam menyerap kata-kata asing, khususnya bahasa Inggris. Mari kita belajar pada kasus efektivitas, kreativitas, dan profesionalisme.

Kelihatannya tidak ada masalah pada semua kata tersebut karena kita sudah terbiasa saja menggunakannya. Salah satu kebiasaan kita dalam menyerap bahasa Inggris adalah sering membentuk kata baru secara analog: kita melihat pola bahasa Inggris, lalu menirunya dalam bahasa Indonesia.

Sayangnya, hasil tiruan ini kadang melenceng dari bentuk aslinya. Contoh kata effectiveness dalam bahasa Inggris yang sering disalahpahami sebagai effectivity. Padahal yang benar memang effectiveness. Jadi padanan Indonesianya adalah efektivitas, bukan efektifitas. Hal yang sama berlaku pada investment, bukan investation, yang kemudian diserap menjadi investasi.

Dulu sekali saya pernah membaca saran-saran Harimurti Kridalaksana (1982), bahwa dalam urusan penyerapan kata asing sebaiknya kita ini tetap memperhatikan kesesuaian bentuk dan maknanya. Kalau tidak, bahasa kita akan kebanjiran istilah baru yang sebenarnya tidak perlu. Di masa lalu juga Anton Moeliono (1988) menekankan pentingnya menjaga keteraturan sistem bahasa, termasuk dalam pembentukan kata serapan. Dengan kata lain, kalau bentuk asli sudah jelas, kita tak perlu menciptakan variasi tambahan hanya karena terdengar mirip.

Pandangan itu sejalan dengan teori dari ahli linguistik asal Norwegia, Einar Haugen (1950), yang menyebut bahwa peminjaman bahasa harus mempertahankan keseimbangan antara bentuk dan makna. Dalam tulisannya, Haugen menjelaskan bahwa penutur cenderung memilih bentuk yang paling dekat dengan sistem bahasa sumber agar maknanya tetap mudah dipahami. Prinsip ini membantu penutur menghindari bentuk serapan yang ganjil atau menyesatkan.

Kalau kita terapkan pada kasus profesionalisme dan profesionalitas, jawabannya cukup jelas. Dalam bahasa Inggris, yang dipakai adalah professionalism, sementara professionality nyaris tidak pernah digunakan. Jadi, pilihan paling wajar dalam bahasa Indonesia adalah profesionalisme. Bentuk ini sudah sesuai dengan sumbernya, sudah terbukti dipakai luas, dan tidak menimbulkan tafsir ganda.

Masalahnya, dalam praktik sehari-hari, banyak orang masih menggunakan profesionalitas karena merasa terdengar lebih keren atau formal. Segala yang ingin keren biasanya lahir dari mereka yang tidak cukup ilmu. Kalau ditelusuri, bentuk penulisan profesionalitas itu tidak punya pijakan kuat dalam bahasa Inggris. Kita bisa saja menggunakannya, tapi pilihan seperti itu membuat sistem bahasa jadi acak-acakan. Bahasa yang sehat tumbuh karena ketepatan, bukan karena biasa kita gunakan maka jadi benar.

Pada akhirnya, memilih antara profesionalisme dan profesionalitas bukan soal siapa yang lebih modern atau lebih akademis. Ini soal berpikir jernih dalam berbahasa. Kalau kita tahu asal katanya, tahu bentuk yang benar, dan tahu alasan di balik penggunaannya, maka keputusan kita jadi lebih masuk akal. Bahasa yang tumbuh dengan sadar akan lebih kuat menghadapi perubahan, tanpa kehilangan arah.

Jika kapan waktu Anda mendengar seorang profesional menggunakan kata profesionalitas, maka orang itu tidak benar-benar profesional kok!

 

Daftar Pustaka

  • Haugen, Einar. (1950). The Analysis of Linguistic Borrowing. Language, 26(2), 210–231.
  • Kridalaksana, Harimurti. (1982). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
  • Moeliono, Anton M. (1988). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pembentukan Istilah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *