Dari “Garda Nasional” ke “Boti”
Arip Senjaya
Beberapa waktu lalu saya membaca lagi Dictionnaire érotique moderne Alfred Delvau itu, terbitan tahun 1864. Aktivitas ini tentu sangat penting bagi pembangunan nasional, ketahanan pangan, dan masa depan generasi emas Indonesia.
Buku itu tebal, tua, dan penuh kata-kata yang membuat algoritma media sosial langsung berkeringat dingin. Pada halaman 295, saya menemukan sebuah entri yang membuat saya nyaris tersedak kopi.
Garde nationale (Être de la). Avoir des habitudes pédérastiques. Secara harfiah itu berarti Garda Nasional (Menjadi bagian dari). Memiliki kebiasaan pedofilia. Dalam bahasa slang Paris abad ke-19, ungkapan itu dipakai untuk menyebut laki-laki yang memiliki kebiasaan homoseksual.
Saya langsung menegakkan badan seperti pasukan garda depan. Terkejut oleh urusan seksualnya? Ah tidak, saya hanya terkejut karena “Garda Nasional” dan “homoseksualitas” sama sekali tidak masuk akal secara asosiasi makna. Tapi mungkin juga istilah tersebut merupakan olok-olok dari barisan tentara profesional Prancis kepada milisi warga itu.
Saya membayangkan percakapan berikut.
“Jean, kenapa orang homoseksual disebut anggota Garda Nasional?”
Jean mengangkat bahu.
“Entahlah.”
“Apakah banyak anggota Garda Nasional yang homoseksual?”
“Tidak tahu.”
“Pernah ada skandal besar?”
“Tidak tahu juga.”
“Lalu kenapa disebut begitu?”
“Pokoknya begitu.”
Dan ternyata memang begitu keadaan ilmu pengetahuan hari ini. Saya menelusuri berbagai kamus argot Prancis abad ke-19. Saya mencari arsip sejarah. Saya mencari skandal militer. Saya mencari gosip Paris. Saya mencari apa pun yang bisa menjelaskan hubungan misterius antara Garde nationale dan seks sesama jenis.
Hasilnya nihil.
Yang ditemukan para peneliti modern hanyalah fakta bahwa istilah itu memang pernah hidup. Asal-usulnya lenyap. Leluconnya bertahan. Konteksnya menguap.
Bayangkan betapa mengerikannya nasib para ahli bahasa.
Mereka menghabiskan puluhan tahun belajar fonologi, morfologi, semantik, pragmatik, etimologi, hingga urat syaraf kalimat. Lalu suatu hari mereka berhadapan dengan sebuah kata yang asal-usulnya dijelaskan oleh masyarakat dengan kalimat:
“Ya pokoknya begitu.”
Saya mulai merasa kasihan kepada para filolog. Mereka tampak gagah ketika membedah manuskrip Latin abad pertengahan. Mereka tampak perkasa ketika menguraikan struktur bahasa Sanskerta. Mereka tampak meyakinkan ketika menjelaskan perubahan bunyi dari Proto-Indo-Eropa. Namun seluruh kewibawaan itu bisa runtuh oleh satu kata gaul.
Sejarah bahasa ternyata penuh jebakan. Bahasa resmi bergerak seperti kereta api. Bahasa gaul bergerak seperti kambing lepas dari kandang.
Alfred Delvau tampaknya memahami hal itu. Ia mengumpulkan apa yang disebut orang Prancis sebagai argot, yakni bahasa jalanan, bahasa penjahat, bahasa pelacur, bahasa tentara, bahasa pekerja kasar, dan seluruh kosakata yang membuat guru bahasa Prancis pingsan secara perlahan.
Saat membaca kamus itu saya mendadak teringat Indonesia. Kita juga punya kebiasaan yang sama. Kita gemar memberi nama. Kita gemar menciptakan kode. Kita gemar menyamarkan sesuatu dengan istilah yang hanya dimengerti oleh anggota sukunya sendiri.
Beberapa tahun terakhir, misal, saya sering mendengar istilah boti. Kata itu beredar cukup luas dalam percakapan sehari-hari, media sosial, dan budaya populer urban. Orang mengucapkannya dengan santai. Tidak ada yang tampak bingung. Semua mengerti. Persis seperti orang Paris tahun 1864 yang tampaknya mengerti apa arti “anggota Garda Nasional”.
Kini bayangkan seorang profesor antropologi dari tahun 2250 sedang meneliti arsip TikTok Indonesia. Ia menemukan kata “boti”. Ia mengernyit. Ia membuka jurnal. Ia membuka arsip digital. Ia mengajukan dana penelitian. Ia menghadiri seminar internasional. Ia menerbitkan artikel setebal empat puluh halaman. Lalu kesimpulannya berbunyi:
“Makna sosial istilah tersebut dapat dipahami, tetapi asal-usul metaforisnya masih memerlukan penelitian lanjutan.”
Padahal para pengguna kata itu pada abad ke-21 mungkin hanya menjawab:
“Ya pokoknya boti.”
Saya semakin yakin bahwa sejarah manusia sesungguhnya ditopang oleh ribuan kata yang lahir secara sembrono. Kita sering membayangkan bahasa berkembang melalui proses yang agung dan teratur. Kenyataannya banyak istilah lahir karena seseorang bercanda.
Lalu temannya ikut memakai.
Lalu tetangganya ikut meniru.
Lalu koran mencatatnya.
Lalu kamus memasukkannya.
Lalu profesor menelitinya.
Lalu negara membiayai penelitiannya.
Lalu seratus tahun kemudian mahasiswa pascasarjana kurang tidur karena harus menulis tesis tentang kata yang awalnya muncul saat dua orang nongkrong sambil menghabiskan kopi murahan.
Semakin tua usia saya, semakin saya curiga bahwa seluruh peradaban dibangun dengan metode seperti itu. Kita mewarisi lagu tanpa mengetahui siapa yang pertama kali bersiul. Kita mewarisi peribahasa tanpa mengetahui peristiwa yang melahirkannya. Kita mewarisi kata-kata tanpa mengetahui siapa penciptanya. Lalu kita berusaha terlihat ilmiah ketika menjelaskannya.
Di meja nongkrong saya saat ini, Alfred Delvau masih terbaring tenang dengan kamus erotiknya yang terbit tahun 1864 itu. Pada halaman 295, istilah Être de la garde nationale masih berdiri tegak seperti monumen kecil bagi sebuah lelucon Paris yang sudah kehilangan orang-orang yang pernah menertawakannya.
Saya membayangkan Delvau tertawa kecil dari alam baka. Seratus enam puluh tahun telah berlalu. Kekaisaran runtuh. Republik berganti. Perang datang dan pergi. Kereta kuda berubah menjadi pesawat jet. Kaset berubah menjadi Spotify. Twitter berganti nama menjadi X. Namun para peneliti masih duduk di depan meja sambil menggaruk kepala:
“Mengapa Garda Nasional?”
Dan mungkin dua ratus tahun lagi, seseorang akan melakukan hal yang sama terhadap kata “boti”. Peradaban bergerak maju. Kebingungan tetap abadi.[]
Arip Senjaya, dosen sastra dan filsafat Untirta, Komite Buku Nonteks Pusbuk, pengarang, editor.

