EntertainmentFashion

Dari Pandangan Hidup ke Biaya Hidup

Arip Senjaya

 

Ada masa ketika seorang laki-laki bisa melihat perempuan cantik lewat di jalan lalu merasa bahwa peradaban sedang berada di ujung tanduk. Ia tidak bersiul. Ia tidak meminta akun Instagram. Ia tidak mencari namanya di Google. Ia langsung memanggil Tuhan.

Di Eropa abad ke-19, sebagian orang merespons perempuan yang terlalu memikat dengan membuat tanda salib. Di dunia Islam, kita mengenal saudara jauhnya: “Astagfirullah…” Keduanya lahir dari kepanikan yang sama. Perbedaannya hanya pada rute perjalanan tangan. Yang satu bergerak dari dahi ke dada. Yang satu bergerak ke dada sambil menghela napas panjang seperti orang yang baru melihat harga rumah.

Manusia memang makhluk yang menarik. Ketika melihat sesuatu yang membuat jantung berdebar lebih cepat dari biasanya, reaksi pertamanya ternyata bukan berpikir. Melainkan ritual. Seolah-olah tubuh lebih dahulu tahu bahwa masalah sedang datang.

Masalahnya, zaman berubah. Perempuan yang dulu dianggap terlalu berani berpakaian sekarang malah bisa menjadi model iklan bank syariah. Yang dulu memancing kepanikan moral sekarang sering dipuji karena “percaya diri”, “empowering”, dan “punya personal branding yang kuat”. Akibatnya umat manusia harus mencari sumber kepanikan baru. Dan mereka berhasil. Dengan sangat sukses.

Hari ini orang jauh lebih sering beristigfar karena urusan listrik daripada urusan syahwat. Meteran token berbunyi pukul dua pagi.

Tit.

Tit.

Tit.

Suara itu pendek. Namun dampaknya bisa membuat seseorang meninjau ulang seluruh keputusan hidupnya sejak lahir. “Astagfirullah…” Tidak ada Carmen. Tidak ada godaan. Hanya listrik tersisa 1,8 kWh. Lalu datang notifikasi lain. “Pembayaran Anda jatuh tempo hari ini.” Astagfirullah. “Paket COD sedang diantar.” Astagfirullah. “Saldo rekening Anda…” Tidak usah dilanjutkan. Astagfirullah.

Menariknya, manusia selalu mengira dirinya hidup pada zaman yang paling rusak. Leluhur kita mengeluh karena generasi muda mulai menampilkan pergelangan kaki. Orang tua kita mengeluh karena generasi muda mulai menampilkan pusar. Kita mengeluh karena generasi muda mulai menampilkan seluruh kehidupannya dalam format video vertikal berdurasi tiga puluh detik. Keluhan berpindah objek.

Keluhannya sendiri awet. Bahkan teknologi tidak berhasil menghilangkannya. Internet hanya membuatnya lebih efisien. Dulu seseorang harus pergi ke pasar untuk menemukan hal yang membuatnya mengeluh. Sekarang cukup membuka ponsel. Dalam waktu lima menit kita bisa marah pada politikus, iri pada influencer, takut pada kondisi ekonomi, kesal pada netizen, bingung pada tren baru, lalu beristigfar tiga kali tanpa berpindah posisi rebahan.

Ini pencapaian yang luar biasa. Manusia modern berhasil menggabungkan kemalasan dan kepanikan dalam satu aktivitas. Saya kadang membayangkan jika perempuan legendaris seperti Carmen hidup hari ini, ia mungkin berjalan seratus meter tanpa ada yang membuat tanda salib. Tanpa ada yang beristigfar. Tanpa ada yang pingsan karena moralitas. Orang-orang hanya mengangkat ponsel. Merekam. Mengunggah. Lalu menulis: “Masya Allah.” Kalimat yang sama. Maksud yang sama sekali berbeda.

Sejarah manusia mungkin bisa diringkas secara sederhana: kita selalu membutuhkan seruan pendek ketika hidup mendadak membuat kita tidak siap. Dulu karena tergoda. Sekarang karena tagihan. Dulu karena melihat perempuan. Sekarang karena melihat saldo rekening dan membaca kabar bahwa Pertamax naik lagi. Kalau dipikir-pikir, yang benar-benar mengalahkan kekuatan Carmen ternyata bukan kesalehan. Melainkan biaya hidup.

Namun mungkin masalahnya sudah berkembang jauh lebih rumit. Sebab manusia modern tidak hanya berhadapan dengan biaya hidup. Ia juga harus menghadapi godaan hidup, tekanan hidup, tuntutan hidup, pilihan hidup, dan sesekali kebingungan hidup. Setiap kali satu masalah selesai, muncul cabang masalah baru yang membawa embel-embel “hidup” di belakangnya, seolah-olah kata itu kini menjadi waralaba yang cabangnya ada di mana-mana.

Ketika masih muda, orang sering berkata bahwa yang terpenting adalah pandangan hidup. Dan memang benar. Pada usia tertentu, baru memandang saja sudah hidup. Senyum sedikit, hidup. Tatapan mata lima detik lebih lama dari biasanya, hidup. Namanya muncul di layar ponsel, hidup. Namun beberapa puluh tahun kemudian, definisinya berubah drastis. Pandangan hidup bergeser menjadi kemampuan memandang daftar cicilan tanpa pingsan. Pegangan hidup berubah menjadi pegangan di bus kota karena kendaraan pribadi belum lunas. Sementara tujuan hidup perlahan menyusut menjadi harapan sederhana: semoga bulan ini tidak ada pengeluaran yang diawali dengan kalimat, “Sebentar, ada yang perlu kita bicarakan.”

Barangkali itulah evolusi manusia yang sesungguhnya. Dulu kita memanggil Tuhan karena takut kehilangan surga. Sekarang kita memanggil-Nya karena takut kehilangan diskon, kehilangan pekerjaan, kehilangan data di laptop, kehilangan dompet, kehilangan sinyal, kehilangan arah, dan kadang-kadang kehilangan alasan mengapa tadi masuk ke dapur. Carmen masih ada. Godaan masih ada. Hanya saja sekarang mereka harus berebut perhatian dengan notifikasi bank, harga bensin, dan kata sandi Wi-Fi yang tiba-tiba salah padahal tidak pernah diganti. []

Arip Senjaya, dosen sastra dan filsafat di Untirta, Komite Buku Nonteks Pusbuk, pengarang, editor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *